Nilai minimal untuk Reward/Risk Ratio (RR Ratio) adalah 3, bila kurang dari 3 sangat tidak disarankan untuk trading karena Risk yang ada terlampau besar dibanding reward yang akan didapat.
Untuk perhitungannya sebagai berikut :
1. Tentukan terlebih dahulu Resistance atau Peak
2. Tentukan Support atau Trough
3. Tentukan Harga Close
Reward = Peak – Close
Risk = Close – Trough
RR Ratio = Reward / Risk
contohnya IHSG 20 Feb 09 :
Peak = 1360.94
Trough = 1302.04
Close = 1296.94
RR Ratio = (1360.94-1296.94) / (1296.94-1302.04)
RR Ratio = -12.55
Kok minus ya hasilnya? lha nilai Close > Trough.
Cara cepat menghitung ? pake computer pak jadi gak perlu menghitung manual : )
Kalau dilihat2 IHSG kok suram sekali ya…
Harga Close sudah menembus garis Trough dan Stop Loss saya, Bollinger Bands membentuk Neck atau Squeeze, Volumenya kecil bangett….
IHSG (6 Okt 08) dibuka dengan Gap dan mengalami penurunan sebesar -10%, hal ini akibat dari sentimen negatif yang disebabkan oleh penurunan ^DJI sebesar -7%. Penurunan ini merupakan penurunan terbesar sepanjang sejarah Amerika.
Dan pada 7 Okt 08 IHSG ditutup -1.8% dari hari sebelumnya. Secara garis besar IHSG masih akan terus turun, yang jadi pertanyaan sampai kapan penurunan ini akan terjadi ?
Jawabnya : Tidak ada yang tahu…
Sikap kita menghadapi hal ini : Istirahat dulu di luar, wait and see hingga IHSG mencapai titik terendah dan menunjukan pembalikan arah yang kuat baru kita join the ride
5. Stop Loss is set at the bottom of the box, with trailling stops being raised with the formation of every new box
Kira-kira seperti inilah hasil akhir dari Darvas Box :
Saham di Indonesia yang termasuk kriteria Darvas Box (all time high) :
Darvas Trading System adalah sebagai Trend Follower Strategy artinya trading hanya akan dilakukan pada fase Strong Bullish oleh karena itu dibutuhkan kesabaran dalam menunggu hingga trend bullish itu tercipta.
Berikut ini video yang menjelaskan bagaimana membuat Darvas Box
Others Trading System
Selain Darvas Box, trading system lain yang dapat digunakan adalah :
1. Rainbow Chart
Rainbow chart ini bisa mengetahui kekuatan momentum yang sedang terjadi saat ini, apakah strong bullish atau akan reversal. Berikut ini contoh dari Rainbow chart + Volume :
2. VierBox atau MagicBox
Vier Box atau Magic Box adalah sebuah tools yang sangat berguna sekali, ibaratnya seperti seorang Astronom yang ingin meneropong arah pergerakan suatu benda langit. VierBox ini ditemukan oleh seorang trader dari Indonesia yang dikenal dengan sebutan Vierjamal. Berikut ini contoh dari VierBox + Volume :
Bollinger Band salah satu fungsinya adalah sebagai trend indicator, untuk mengetahui tingkat volatilitas suatu saham, untuk mengetahui kondisi Overbought atau Oversold suatu saham.
Parabolic SAR berfungsi sebagai trend indicator, dapat mengukur kekuatan suatu trend yang sedang terjadi dan sebagai penentu titik stop loss
Stochastic Oscillator berfungsi sebagai trend indicator namun fungsi utamanya adalah untuk mengetahui kondisi suatu saham sudah Overbought atau Oversold
MACD berfungsi sebagai trend indicator & dapat mengetahui kekuatan momentum yang sedang terjadi
Volume adalah sebagai trend confirmation, bila harga naik maka akan didukung oleh volume yang cenderung kuat dan naik
Berikut ini contoh dari Bollinger Band, Parabolic SAR, Stochastic Oscillator & MACD :
Chart Pattern & Candlestick Pattern
Dari berbagai Chart Pattern & Candlestick Pattern yang ada, yang harus diperhatikan dari kedua pattern ini adalah Reversal Pattern yaitu sebagai berikut :
Chart Pattern :
1. Head & Shoulder Pattern / Inverted Head & Shoulder Pattern
2. Double & Tripple Top / Double & Tripple Bottom
Candlestick Pattern :
1. Bullish Reversal Pattern : Abondoned baby, Piercing line, Three Inside Up, Three White Soldier, Inverted Hammer, Bullish Engulfing, etc
2. Bearish Reversal Pattern : Dark Cloud Cover, Three Black Crows, Evening Stars, etc
Dow Theory-Market Phases
Menurut Dow, secara garis besar market itu memiliki 4 Fase :
1. Akumulasi : Tahapan akumulasi di mana harga bergerak pada support dan resistance. Volume cenderung rendah 2. Breakout Uptrend : Memasuki tahap ke 2 ini harga saham akan menembus resistance2 dengan volume yg lebih besar dari rata2 volume sebelumnya 3. Distribusi : Memasuki tahap ke 3, harga saham cenderung kembali bergerak mendatar dengan volume yg mengecil dari volume tahap ke 2 4. Breakout Downtrend : Tahapan ke 4, harga saham yg telah di distribusi cenderung bergerak turun
Namun selama uptrends dan downtrends akan terjadi sedikit volatile yang membentuk pola Higher High (HH) & Higher Low (HL) pada uptrends dan Lower High (LH) & Lower Low (LL) pada downtrends. Tidak jarang terjadi pula pola yang disebut Line (ranging market), line disini adalah pola sideways dan nantinya akan terjadi breakout entah itu break di high atau break di low. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:
Akhirmya sampai juga pada akhir tulisan…Dah dulu ya dah kepanjangan nih tulisannya…