Awal Mula Krisis Amerika Serikat

Kebetulan baru lihat liputan krisis ini di DWTV. Penjelasannya menarik dan
gampang diikuti. Gak ada salahnya dibagi di sini. Selamat membaca.
Apa itu subprime mortgage?
Subprime mortgage adalah paket kredit kepemilikan rumah yang ditujukan untuk
orang-orang ‘miskin’ Amerika. Orang ‘miskin’ yang dimaksud adalah
orang-orang yang memiliki rating kredit buruk – antara lain para penunggak
tagihan kartu kredit dan tagihan kredit kendaraan bermotor. Bisa dikatakan
subprime mortgage adalah KPR bagi wong cilik di Amerika.

Mengapa ada subprime mortgage?
Kita bicara hukum permintaan dan penawaran di sini. Orang-orang ‘miskin’ di
Amerika sama halnya dengan orang kebanyakan, punya impian untuk memiliki
rumah sendiri, sementara bank-bank konvensional yang ada, banyak yang takut
melihat rekam jejak kredit mereka. Di lain sisi, perusahaan kredit perumahan
(mortgage company), melihat mereka sebagai peluang bisnis yang perlu
digarap. Akhirnya, perusahaan kredit perumahan tadi datang dengan segepok
uang tunai, lalu lantas mengucurkan kredit rumah kepada mereka.

Bagaimana Perusahaan Kredit Perumahan beroperasi?
Perusahaan kredit perumahan ini sebagian dananya didapat dari pinjaman dari
pihak ketiga dalam jangka waktu pengembalian yang pendek (1-5 tahun).
Sementara, subprime mortgage sendiri merupakan kredit jangka panjang yang
bisa berkisar 10-20 tahun. Pendeknya, ada financing mismatch di sini.

Selanjutnya, perusahaan kredit perumahan juga berbisnis via margin penjualan
mortgage backed securities atau efek beragun aset (EBA). EBA merupakan
kumpulan kredit-kredit yang kemudian dijual kepemilikannya kepada investor.
Dalam kaitannya dengan EBA yang berasal dari subprime mortgage, investor
mendapatkan bukti kepemilikannya dalam bentuk saham yang diback-up oleh
properti yang diagunkan dalam proses subprime mortgage tadi. Karena EBA yang
berasal dari subprime mortgage ini cukup berisiko, maka return EBA ini juga
tinggi. Return EBA didapatkan dari cicilan pembayaran kreditor-kreditor
subprime mortgage – yang mana seperti disebutkan sebelumnya adalah
orang-orang ‘miskin’ di AS. Oya, EBA ini di AS dan Australia ada pasarnya
tersendiri. Jadi ada pembeli, penjual dan mekanisme harganya tersendiri.
Selanjutnya, karena EBA tipe subprime mortgage ini berkarakteristik high
risk high return, maka cukup banyak investor hedge fund dan investment bank
yang meminatinya. Hedge Fund sendiri terdiri kumpulan dana investor raksasa
yang investasinya lintas negara dan cenderung beraksi spekulatif.

Bagaimana subprime mortgage terjerembab krisis?
Gampang saja. Karena kreditor subprime mortgage adalah orang-orang
pendapatannya pas-pasan maka kemampuan pembayaran cicilannya juga sangat
lemah Sehingga saat para kreditor tersebut tidak mampu membayar cicilan
kreditnya, maka EBA yang berasal dari subprime mortgage pun ambruk. Nilai
jualnya jadi terkoreksi. Otomatis, para investor yang menanamkan modalnya di
EBA subprime mortgage juga ikutan merugi. Parahnya lagi, banyak perusahaan
kredit perumahan yang juga bangkrut, karena tidak ada putaran uang yang
terjadi dan diperparah adanya financing mismatch tadi.

Bagaimana subprime mortgage menghantam Bursa New York?
Pasar sangat sensitif pada kabar buruk (bad news). Dan kabar buruk yang
memicu krisis di Wall Street ini diduga datang pada tanggal 2 Agustus lalu,
saat BNP Paribas- salah satu bank terbesar di Eropa yang berasal dari
Prancis dan sebuah bank Jerman (IKB Deutsche Industriebank) mengalami
masalah terhadap investasi EBA subprime mortgage di Amerika. Selanjutnya,
berita terpuruknya subprime mortgage ini mulai terkuak di mana kerugiannya
sendiri ditaksir ada sekitar $35 trilyun. Akibatnya, kepanikan pun mulai
melanda para investor di lantai bursa New York. Investor lalu mulai menjual
saham-saham yang bergerak dalam industri properti. Karena perusahaan yang
berkaitan dengan properti di Bursa New York ada sekitar 1/3 dari total
kapitalisasi pasar, tak heran, jika bursa saham secara total juga ikut
terkoreksi. Investor yang panik, kemudian mulai berpikir untuk mencari
alternatif alat investasi yang aman – antara lain via deposito di bank dan
investasi di obligasi pemerintah.

Bagaimana krisis subprime mortgage menjadi krisis global?
Gerak arus modal yang semakin borderless, membuat pasar keuangan dunia
menjadi saling terkait dan saling berketergantungan satu sama lain. Sentimen
negatif dan kepanikan dari Wall Street yang notabene merupakan pasar saham
terbesar di dunia dengan cepatnya menjalar ke mana-mana. Investor-investor
global raksasa yang tergabung dalam hedge fund ataupun investment bank baik
yang secara kebetulan memiliki investasi di subprime mortgage atau tidak,
mulai menarik dananya dari pasar modal dan mulai memasukkannya ke dalam
investasi yang berisiko lebih rendah. Motifnya kurang lebih sama,, mencoba
menghindari risiko kerugian yang lebih besar (cut loss). Maka, tak heran
bursa-bursa saham regional dan dunia juga ikut bertumbangan.

Apakah krisis subprime mortgage mengancam bank-bank juga?
Untuk bank-bank yang memiliki investasi di subprime mortgage secara langsung
(seperti BNP Paribas di atas), imbasnya tentu ada yaitu kerugian investasi.
Kerugian investasi berakibat pada seretnya dana cadangan bank-bank tersebut.
Karena lalu lintas keuangan yang begitu cepat di bank, seretnya dana
cadangan tersebut bisa berimbas kepada kesulitan likuaditas. Lalu bagaimana
dengan bank-bank lainnya? Karena para investor mulai memindahkan
investasinya ke tempat yang lebih aman (antara lain ke deposito bank) maka
bank pun menerima ‘uang panas’ dari investor. Oleh karena itu, bank pun
harus siap-siap menambah cadangannya untuk berjaga-jaga apabila ada
penarikan mendadak dari para investor tersebut. Hal tersebut membuat bank
cenderung untuk menaikkan bunga pinjaman antarbank. Otomatis lalu lintas
pinjam meminjam sesama bank menjadi semakin mahal. Ini lagi-lagi berimbas
pada kesulitan likuiditas di dunia perbankan. Tak heran dalam beberapa hari
terakhir Bank Sentral di Eropa, AS dan Australia sibuk mengucurkan kredit
likuiditas untuk menopang lancarnya arus lalu lintas keuangan di kawasan
mereka.

Bagaimana di Indonesia?
Setelah sempat menembus ‘rekor’ tertinggi di angka 2700an*, Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG), belakangan juga ikut ‘terkapar’ dihempas sentimen
negatif pasar global. Saat ini (10/10) angka IHSG berada di bawah 1500an*. Hal
ini menegaskan pendapat beberapa pengamat yang menyatakan bahwa ‘rekor’ IHGS
disebabkan masuknya ‘uang panas’ dari luar negeri yang memiliki
kecenderungan mengambil keuntungan jangka pendek belaka. Ini tak
mengherankan karena para investor global tersebut mulai menyesuaikan
komposisi investasinya demi menghindarkan kerugian yang lebih besar. Semoga
saja faktor-faktor dalam negeri tetap stabil, sehingga gejolak pasar global
tidak berimbas ke dalam negeri.

Sumber informasi:
Subprime crisis di http://www.voxeu.org/index.php?q=node/466

Note :
*Disesuaikan dengan kondisi artikel ini di upload