Sejarah Thifan Po Khan

Thifan adalah nama suatu daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah jajahan China yang kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang, yang artinya Negeri Baru (Lihat Turkistan: Negeri Islam Yang Hilang, DR. Najib Kailany). Namun kalau kita simak dalam peta dunia, yang akan kita temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah China Utara.

Turkistan Barat dijajah oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang ke daerah ini, beberapa suku asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati telah memiliki sejenis ilmu beladiri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang dinamakan “kagrul”, yang dipadukan dengan pengaturan napas Kampa.

Dakwah Islam mulai disebarkan di Turkistan kira-kira pada dua abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam :

“Maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadan tanah China arah utara itu masuk Islam. Lalu ilmu pembelaan diri masa mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam alam Islam, tetapi ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan kebudhaannya seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatupkan kedua belah tangan, lambang-lambang, dan segala istilah.”(ZHODAM, Syiharani, halaman 9).

Menurut M. Rafiq Khan dalam bukunya “Islam di Tiongkok”, mengatakan sebagai berikut :
“Orang Muslim pertama yang datang di Tiongkok ialah dalam zaman pemerintahan Tai Tsung, kaisar kedua dari dinasti Tang (627-650 Masehi). Jumlah mereka ada empat orang, seorang berkedudukan di Kanton, yang kedua di kota Yang Chow, yang ketiga dan yang keempat berdiam di kota Chuang Chow. Orang yang mula-mula mengajarkan Islam ialah Saad bin Abi Waqqas, yang meletakkan batu-batu pertama mesjid Kanton yang terkenal sekarang sebagai Wai-Shin-Zi, yaitu Mesjid untuk kenang-kenangan kepada Nabi”

Dituliskannya pula bahwa selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2 dari Dinasti Tsung tahun 960-1279 Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra Khan beserta pasukannya, lalu menduduki Sin Kiang (Simak : Islam di Tiongkok; M. Rafiq Khan dan Sejarah Da’wah Islam; Thomas W. Arnold).

Hal ini disepakati oleh seorang China ahli sejarah terkenal yang bernama Prof. Chin Yuan menyatakan bahwa orang-orang Islam mengirimkan utusan-utusan mereka ke Tiongkok dalam tahun 651, utusan-utusan itu bertemu dengan Kaisar Tiongkok di Changan (Sianfu), ibukota Tiongkok pada waktu itu. Pada tahun 713 M. perbatasan barat Tiongkok dikuasai oleh seorang jenderal Arab yang terkenal bernama Qutaiba bin Muslim, pada waktu itu ia telah menaklukkan daerah yang luas di Asia Tengah dan namanya sangat ditakuti.

Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi antara dakwah Islam dengan tumbuhnya berbagai macam beladiri di kawasan China, sehingga terjadi pula Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa Urwun yang merupakan bahasa asalnya, Thifan Po khan berarti “Kepalan Tangan Bangsawan Thifan”. Beladiri ini mempunyai riwayat tersendiri yang khas sebagaimana diceritakan dalam kitab yang bernama Zhodam.

Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang disebut Kagrul, bercampur Kumfu China Purba. Tersebutlah seorang pendeta Budha bernama Ponitorm/Tamo Sozhu/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan, ia mengembara ke China untuk menyebarkan ajarannya.

Dalam pengembaraannya sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah oleh Raja Wu, karena terkena fitnah ia melarikan diri dan sampai di Bukit Kao, di sana ia merenung selama 9 tahun. Menyadari murid-muridnya sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia, atau penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama Budha, maka ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti tersebut di atas.

Campuran Kumfu China Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang diatur dengan jalan pernapasan Yoga Dahtayana membentuk Shourim Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara. Pengkajian beladiri ini disusun dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam Kitab Hzen Souzen. Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri lain seperti Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain, yang masih satu sumber.

Aliran Shourim terus berkembang ke arah utara China dan memasuki daerah orang Lama (Tibet) dan orang Wigu (Turkistan). Di sana aliran Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang. Setiap cabang pun berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut. Pecahnya Shourim menjadi berbagai macam aliran ini disebabkan Dinasti yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.

Tersebutlah seorang bangsawan bernama Je’nan dari Suku Tayli yang pandai ilmu Syara dan terkenal sebagai ahund (ustadz atau guru) muda. Je’nan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu dan ia pun berguru pada pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu. Bersama para pendekar Muslim lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, Silat Kitan, Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan (siasat para raja/bangsawan).
Dari Shurul Khan inilah terbentuk sembilan aliran, aliran-aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, lalu dipilah, diteliti dan dikaji sebagai cikal bakal munculnya Thifan Po Khan. Pada masa itu pengaruh ajaran Islam sudah masuk ke dalam beladiri ini.

Perkembangan Thifan Po Khan di Indonesia

Diperkirakan Thifan masuk ke Indonesia pada tahun 1678 pada masa Sultan Malik Muzafar Syah dari Kerajaan Lamuri, pada saat itu Sultan Malik Muzafar Syah mendatangkan pelatih-pelatih dari Turki Timur yang kemudian disebarkan ke kalangan para bangsawan di Sumatera (dapat dilihat dalam Kisah Raja-raja Lamuri/ Raja Pasai).

Pada abad ke-18 Tuanku Rao dan kawan-kawan mengembangkan ilmu ini ke daerah-daerah Padang, Tapanuli Selatan dan Minang, hingga tersebar ke Bonjol, Sumatera bagian Timur dan Riau yang berpusat di Air Jernih, Batang Uyun (Merbau). Dari Merbau ini diperkirakan menyebar ke Malaysia dan Thailand. Dari Merbau dan Bonjol menyusuri pantai utara Sumatera sampai ke kota Muko-Muko dan akhirnya masuk ke pulau Jawa, terus menyebar dan tidak diketahui ke mana saja penyebarannya.

Sekitar tahun 1900-an Tuanku Haji (Hang) Uding membawa ilmu Thifan ini ke pulau Jawa dan menyebarkannya di daerah Betawi dan sekitarnya.Masuknya ilmu Thifan ke pulau Jawa ada yang langsung yaitu yang disebarkan oleh orang-orang Tartar ke pulau Jawa sambil berdagang kain, ada pula yang tidak lansung yaitu melalui pesisir pulau Sumatera seperti tersebut di atas.
Pada masa SDI dan SI ada beberapa pemuda Islam yang mengkaji beladiri Thifan Po Khan, kemudian pada masa Masyumi beladiri Thifan Po Khan mulai berkembang dan dikaji oleh beberapa kelompok pemuda Islam tetapi tidak berlanjut.

Pada tahun 1960an gerakan-gerakan keislaman mulai surut, beladiri-beladiri yang berasaskan Islam pun ikut surut, sehingga penyebarannya pun terjadi dengan sembunyi-sembunyi, begitu juga dengan Thifan Po Khan yang berasaskan Islam, penyebarannya kembali surut, pada masa itu hanya beberapa orang saja yang mengkaji Thifan Po Khan dan itupun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Pada masa Orba untuk pertama kalinya gerakan Keislaman mulai timbul kembali dalam batas-batas tertentu, dan akhirnya tersendat kembali. Pada waktu itu penyebaran beladiri Thifan Po Khan kembali surut dan hanya dikaji oleh beberapa orang saja secara pribadi dan tidak dibuka secara umum.

Pada tahun 1972 Thifan Po Khan mulai diajarkan kembali secara pribadi-pribadi di kalangan pemuda PERSIS, walaupun banyak tantangan dari kalangan pemuda PERSIS sendiri, akhirnya pada tahun 1976 dibentuk Yayasan Thifan Po Khan, tapi yayasan itu tidak berkembang karena beberapa kendala, beladiri Thifan Po Khan pun hampir hilang dari permukaan.

Pada tahun 1980an beladiri Thifan Po Khan mulai tersebar ke berbagai wilayah di pulau Jawa, tetapi penyebarannya terbatas pada Pesantren-pesantren PERSIS dan pemuda-pemuda masjid.

Pada tahun 1987an berdiri lembaga olah raga beladiri Thifan Po Khan, kemudian berganti-ganti badan hukum, timbul beberapa kendala di dalamnya dan akhirnya terbentuklah Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia pada awal tahun 2005.

Sebenarnya cukup banyak orang yang berjasa dalam menyebarkan ilmu Thifan Po Khan di pulau Jawa, tetapi nama-nama mereka tidak dikenal dan penyebarannyapun tidak diketahui ke mana saja.

Sumber : http://thifanpokhan.blogspot.com/2007/05/sejarah-thifan-po-khan.html

Advertisements

Aikido

Aikido (合気道 aikidō?) is a Japanese martial art developed by Morihei Ueshiba as a synthesis of his martial studies, philosophy, and religious beliefs. Aikido is often translated as “the Way of unifying (with) life energy” or as “the Way of harmonious spirit.” Ueshiba’s goal was to create an art that practitioners could use to defend themselves while also protecting their attacker from injury.
Aikido is performed by blending with the motion of the attacker and redirecting the force of the attack rather than opposing it head-on. This requires very little physical energy, as the aikidōka (aikido practitioner) “leads” the attacker’s momentum using entering and turning movements. The techniques are completed with various throws or joint locks. Aikido can be categorized under the general umbrella of grappling arts.
Aikido derives mainly from the martial art of Daitō-ryū Aiki-jūjutsu, but began to diverge from it in the late 1920s, partly due to Ueshiba’s involvement with the Ōmoto-kyō religion. Ueshiba’s early students’ documents bear the term aiki-jūjutsu. Many of Ueshiba’s senior students have different approaches to aikido, depending on when they studied with him. Today aikido is found all over the world in a number of styles, with broad ranges of interpretation and emphasis. However, they all share techniques learned from Ueshiba and most have concern for the well-being of the attacker. This attitude has been at the core of criticisms of aikido and related arts.

Pencak Silat

Silat is an umbrella term used to describe the martial art forms practiced throughout the Malay Archipelago. Internationally it is now called Pencak Silat. Silat is a combative art of fighting and survival and it has been evolved in Indonesia, Malaysia and Brunei Darussalam civilizations for centuries into social culture and tradition. During the colonization era, both in Malaysia and Singapore as British Colonies and in Indonesia as Dutch colonies, practitioners (locally known as pesilat) used the martial art as a form to liberate from foreign authorities.
The distinctive forms of silat with other Asian martial arts, such as kung fu, tae kwon do or karate, lie on the cultural aspect. Silat is not only for combative purposes. When accompanied with traditional instruments, such as kendang, silat transforms into a folk dance. In Minangkabau area (the West Sumatra province of Indonesia), silat was the oldest men’s tradition known as silek and it is one of the components to perform the Minangkabau folk dance of randai. In Malaysia, one form of silat known of silat pulut also shows the harmonic silat styles as a dance accompanied by traditional instruments, and so in Brunei Darussalam “silat cakak” also performed with the presence of “gulintangan”. A silat form in West Java province of Indonesia, known as pencak, is usually accompanied with music, notably by the traditional Sundanese suling instrument.

Shaolin Kung Fu

Shaolin Kung Fu refers to a collection of Chinese martial arts that claim affiliation with the Shaolin Monastery. Of the tens of thousands of kung fu wushu styles, several hundred might have some relationship to Shaolin; however, aside from a few very well known systems, such as Xiao Hong Quan, the Da Hong Quan, Yin Shou Gun, Damo Sword, etc., it would be almost impossible to establish a verifiable connection to the Temple for any one particular art.

Legend (Bodhidharma)

According to the Jingde of the Lamp, after Bodhidharma, a Buddhist monk from India, left the court of the Liang emperor Wu in 527, he eventually found himself at the Shaolin Monastery, where he “faced a wall for nine years, not speaking for the entire time”.
According to the Yì Jīn Jīng,
after Bodhidharma faced the wall for nine years at Shaolin temple, he left behind an iron chest. When the monks opened this chest they found two books: the “Marrow Cleansing Classic,” and the “Muscle Tendon Change Classic”, or “Yi Jin Jing” within. The first book was taken by Bodhidharma’s disciple Huike, and disappeared; as for the second, the monks selfishly coveted it, practicing the skills therein, falling into heterodox ways, and losing the correct purpose of cultivating the Real. The Shaolin monks have made some fame for themselves through their fighting skill; this is all due to their possession of this manuscript.
History
The attribution of Shaolin’s martial arts to Bodhidharma has been discounted by some 20th century martial arts historians, first by Tang Hao on the grounds that the Yì Jīn Jīng is a forgery.
Huiguang and Sengchou were involved with martial arts before they became two of the very first Shaolin monks, reported as practicing martial arts before the arrival of Bodhidharma. Sengchou’s skill with the tin staff is even documented in the Chinese Buddhist canon.
Records of the discovery of arms caches in the monasteries of Chang’an during government raids in AD 446 suggests that Chinese monks practiced martial arts prior to the establishment of the Shaolin Monastery in 497. Monks came from the ranks of the population among whom the martial arts were widely practiced prior to the introduction of Buddhism. There are indications that Huiguang, Sengchou and even Huike, Bodhidarma’s immediate successor as Patriarch of Chán Buddhism, may have been military men before retiring to the monastic life. Moreover, Chinese monasteries, not unlike those of Europe, in many ways were effectively large landed estates, that is, sources of considerable regular income which required protection.
In addition, the Spring and Autumn Annals of Wu and Yue, the Bibliographies in the Book of the Han Dynasty and the Records of the Grand Historian all document the existence of martial arts in China before Bodhidharma. The martial arts Shuāi Jiāo and Sun Bin Quan, to name two, predate the establishment of the Shaolin Monastery by centuries.

Parkour

Parkour is a physical activity that is difficult to categorize. Often miscategorized as a sport or an extreme sport, parkour has no set of rules, team work, formal hierarchy, or competitiveness. It is an art or discipline that resembles self-defense in the ancient martial arts. According to David Belle, “the physical aspect of parkour is getting over all the obstacles in your path as you would in an emergency. You want to move in such a way, with any movement, as to help you gain the most ground on someone or something, whether escaping from it or chasing toward it.” Thus, when faced with a hostile confrontation with a person, one will be able to speak, fight, or flee. As martial arts are a form of training for the fight, parkour is a form of training for the flight. Because of its unique nature, it is often said that parkour is in its own category.

An important characteristic of parkour is efficiency. Practitioners move not only as fast as they can, but also in the most direct and efficient way possible; a characteristic that distinguishes it from the similar practice of free running, which places more emphasis on freedom of movement, such as acrobatics. Efficiency also involves avoiding injuries, short and long-term, part of why parkour’s unofficial motto is être et durer (to be and to last). Those who are skilled at this activity normally have an extremely keen spatial awareness (a.k.a. air sense).

Traceurs say that parkour also influences one’s thought process by enhancing self-confidence and critical-thinking skills that allow one to overcome everyday physical and mental obstacles. A study by Neuropsychiatrie de l’Enfance et de l’Adolescence in France reflects that traceurs seek for more sensation and leadership than gymnastic practitioners.

Movements

 

There are fewer predefined movements in parkour than gymnastics, as it does not have a list of appropriate “moves”. Each obstacle a traceur faces presents a unique challenge on how they can overcome it effectively, which depends on their body type, speed and angle of approach, the physical make-up of the obstacle, etc. Parkour is about training the bodymind to react to those obstacles appropriately with a technique that works. Often that technique cannot and need not be classified and given a name. In many cases effective parkour techniques depend on fast redistribution of body weight and the use of momentum to perform seemingly impossible or difficult body manoeuvres at speed. Absorption and redistribution of energy is also an important factor, such as body rolls when landing which reduce impact forces on the legs and spine, allowing a traceur to jump from greater heights than those often considered sensible in other forms of acrobatics and gymnastics.

According to David Belle, you want to move in such a way that will help you gain the most ground as if escaping or chasing something. Also, wherever you go, you must be able to get back, if you go from A to B, you need to be able to get back from B to A, but not necessarily with the same movements or passements.

Despite this, there are many basic techniques that are emphasized to beginners for their versatility and effectiveness. Most important are good jumping and landing techniques. The roll, used to limit impact after a drop and to carry one’s momentum onward, is often stressed as the most important technique to learn. Many traceurs develop joint problems from too many large drops and rolling incorrectly. Parkour has sometimes received concerns for its health issues due to large drops. Communities in Great Britain have been warned by law enforcement or fire and rescue of the risk in jumping in the high buildings. Although David Belle has never been seriously injured while practising parkour, there is no careful study about the health issues of large drops and traceurs stress gradual progression to avoid any problems. Despite this, the American traceur Mark Toorock and Lanier Johnson, executive director of the American Sports Medicine Institute say that injuries are rare because parkour is based on the control of movements not on what cannot be controlled.

Ciaaat…Ikut Bela Diri, Yuk!

Usah khawatir anak bakal jadi tukang berkelahi. Justru dengan ikut bela diri, anak dibekali kemampuan mengendalikan diri.

Seperti dikatakan Hendry Hendarto, instruktur karate ban hitam, “Anak harus belajar bagaimana mengendalikan emosinya. Saat terjadi konflik, dia tidak ujug-ujug menyerang lawan, tapi mencoba memecahkan masalah dengan cara lain seperti berdiskusi. Barulah saat dirinya diserang atau terancam, dia bisa membela diri. Dengan kata lain, bela diri merupakan jalan terakhir yang ditempuh dan dilakukan dalam keadaan terdesak,” tutur bintang laga ini. 

Selain itu, bela diri juga jauh dari kesan kekerasan. Sebab, bela diri tak hanya menyangkut wiraga (gerak), wirasa (citarasa), dan wirama (irama), tapi juga unsur moral bahkan spiritual. “Banyak tokoh dan pendiri bela diri yang akhirnya menjadi bhiksu, pendeta, dan tokoh agama lainnya. Ini menandakan bela diri juga penuh dengan nilai kasih sayang, empati, dan lain-lain. Jadi, tidak ada ceritanya anak menjadi senang bag big bug karena belajar karate,” tandas Hendry yang diamini pula oleh Cipto Guntoro, instruktur silat POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) DKI Jakarta. “Bela diri tidak hanya mengembangkan fisik anak, tapi juga menata mentalnya. Anak-anak dibangun mentalnya untuk tidak melakukan kekerasan kepada anak lain,” tambah Igung, sapaan akrabnya. 

Namun, bukan berarti anak tak mendapat tempat untuk menyalurkan kelihaiannya menggunakan jurus-jurus bela diri yang telah dipelajarinya. Sebab, dalam ujian anak bisa memeragakan semua gerakan tersebut, baik memukul, menendang, atau menangkis. Tentu, keamanan dalam bertanding menjadi prioritas. Untuk tae kwon do, misal, anak usia di atas 10 tahun baru bisa mengikuti, selain beberapa tubuh yang sensitif dilindungi pengaman, seperti kepala, bagian dada, kelamin, dan sebagainya. “Tidak cuma itu. Anak juga diajarkan mana bagian tubuh yang boleh dan tidak dipukul,” ungkap Rintanto P.H., instruktur tae kwon do anak dari sekolah ternama di Jakarta. 

PERLU KERJA SAMA 
Menurut Hendry, dukungan orangtua sangat penting agar anak bisa mengambil manfaat dan membuang risiko negatifnya. Salah satunya adalah memberikan motivasi agar anak rajin berlatih. Maklum, di usia ini, suasana hati anak kadang berubah, kadang baik dan kadang buruk. Nah, di saat suasana hati buruk, biasanya dia malas latihan. Nantinya, bukan tak mungkin jika kemalasan ini semakin menjadi-jadi sehingga anak mogok berlatih. Nah, tugas orangtualah untuk memberikan motivasi saat suasana hati anak buruk atau minatnya menurun. “Berikan perhatian pada aktivitas bela dirinya seperti menanyakan pelatih, suasana latihan, dan sebagainya.” 

Dukungan juga bisa diwujudkan dengan mengantar jemput anak, mengawasinya saat latihan, menyediakan makanan dan minuman ringan, serta lainnya. Hadir saat latihan juga membuat orangtua tahu, bagaimana gerakan yang tepat, sehingga bisa mengoreksi dan membetulkannya saat anak memeragakan teknik yang keliru. 

Bukan cuma itu. Orangtua pun dapat menyelipkan pesan-pesan moral. Meski sudah menguasai gerakan bela diri, bukan berarti anak bebas mempraktikkannya kepada adik atau kakak di rumah maupun teman-temannya, melainkan harus bisa menahan diri saat terjadi konflik. Anak pun tak boleh memamer-mamerkan kemampuan bela diri. Jelaskan risiko yang bisa terjadi jika anak tetap memamerkan kemampuannya, seperti menerima sanksi dari orangtua atau dikucilkan dari pergaulan sosial. Bela diri bukan untuk dipamerkan dan menjadi jagoan, melainkan justru menjadikan anak rendah hati.

SARAT MANFAAT
Menurut Yanti dan Hendry, bela diri sangat banyak manfaatnya, antara lain: 

* Melatih Kemampuan Motorik Kasar-Halus 
Melalui berbagai gerakan dalam bela diri, anak bisa belajar mengatur keseimbangan, melompat, menangkis, memukul, dan sebagainya. Kemampuan motorik ini penting agar anak memiliki posisi tubuh yang baik.

* Tubuh Sehat & Bugar 
Rangkaian gerakan dalam bela diri sama saja dengan olahraga. Semakin sering badan digerakkan semakin sehat. Dengan tubuh yang sehat anak pun memiliki kekebalan yang cukup, hingga membuatnya tak gampang terserang penyakit. Olahraga teratur juga membuat tubuh anak semakin bugar, dan konsentrasi jadi lebih tajam. 

* Belajar Disiplin 
Meski tak seketat orang dewasa, anak tetap harus mematuhi aturan yang ada di perguruan. Misal, tak boleh telat latihan kecuali ada alasan kuat, mengikuti instruksi yang diberikan pelatih, menggunakan seragam, tak boleh bermain-main saat latihan, dan sebagainya. Berbagai sanksi pun bisa diterima jika anak melanggarnya. Dengan keberadaan aturan itu, anak belajar disiplin dan menaati aturan. Bukan tak mungkin jika hal yang sama akan diterapkannya di sekolah atau di rumah, anak belajar mematuhi semua aturan di rumah dan sekolah. 

* Ajang Sosialisasi 
Bila ikut bela diri, khususnya di luar sekolah, anak akan bertemu dengan teman-teman baru. Dia belajar bergaul dan bermain dengan teman-teman barunya, sehingga kemampuan sosialnya lebih terasah. 

* Menyalurkan Energi Positif 
Anak bisa meluapkan emosi negatifnya lewat gerakan-gerakan bermanfaat, seperti berlari-lari, melompat, dan lainnya. Selain sehat, emosi anak pun jadi stabil kembali. Ini cukup positif daripada anak menyalurkannya lewat mengamuk, memukul adik, atau menendang teman.

BUKAN CUMA ANAK LELAKI
Benarkah bela diri identik dengan laki-laki? Enggak juga, kok! Seperti dikatakan Rosmayanti, Psi., dari Yayasan Cikal, Jakarta, “Setiap anak memiliki minat masing-masing. Orangtua tak bisa memaksakan anak masuk kursus bela diri jika dia enggak suka.” Jika dipaksakan, bukan tak mungkin anak malah mogok latihan. Sebaliknya jika berminat, lanjut psikolog yang dipanggil Yanti ini, anak perempuan pun boleh ikut bela diri. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk berlatih bela diri. 

Nah, bila anak sudah berminat, selanjutnya ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan orangtua sebagaimana disampaikan oleh Yanti, Hendry, dan Rintanto berikut ini: 
* Sebaiknya tempat kursus itu menyediakan masa percobaan, sehingga jika anak senang dan berminat, dia bisa melanjutkan latihan. Jika tidak, dia bisa mempelajari keterampilan lain yang lebih diminatinya. Minat tinggi merupakan modal penting untuk anak belajar. Jika anak sudah suka, dia akan terus termotivasi untuk belajar. 

* Pilih seni bela diri yang cocok. Kini, bertebaran perguruan bela diri di tanah air, masing-masing memiliki kekhususan. Nah, orangtua bisa menggali, seni bela diri apa yang akan anak geluti. 

* Sebaiknya kelompok bela diri tak dicampur dengan orang dewasa, tapi khusus untuk anak seusianya. Sebab, metode melatih anak berbeda dengan dewasa. Begitu juga materi, porsi, maupun berat latihannya. Agar optimal dan efektif, anak-anak sebaiknya dikelompokkan menurut usia. Memang, pada kenyataannya, itu tidaklah mudah, khususnya perguruan bela diri yang berada di luar sekolah. Kadang, jumlah anak yang mendaftar lebih sedikit ketimbang remaja atau dewasa. Tak heran, beberapa ranting karate kadang menggabungkan anak dan remaja, namun materi dan porsi latihan tetap dibedakan. Misal, jika orang dewasa harus push sampai 10 kali, maka anak cukup 2-5 kali saja. 

* Lihat kemampuan motorik anak, apakah dia sudah siap untuk melakukan serangkaian gerakan yang ada di dalam bela diri atau tidak. Jika tidak, jangan terlalu dipaksakan. 

* Berikan asupan nutrisi yang cukup dan bergizi. Bela diri merupakan aktivitas yang menguras fisik dan tenaga. Jika asupan nutrisinya kurang, latihan bela diri tak akan optimal. Anak cepat lelah dan tak bisa mengikuti gerakan yang diberikan dengan baik.

* Beritahukan kepada pelatih bila si kecil mengidap sakit tertentu seperti asma, sehingga instruktur bisa mengatur porsi latihan yang tepat. Jangan khawatir jika penyakitnya bertambah parah, justru penyakitnya bisa berkurang atau bahkan sembuh. Kecuali jika anak memiliki penyakit berat seperti hemofilia, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Kalaupun mau latihan, harus dibuat kelas khusus. Hal yang sama berlaku bagi anak yang memiliki cacat fisik, sebaiknya ikut kelas privat sehingga materinya bisa disesuaikan.

Sumber : www.tabloid-nakita.com