Biarkan aku terus berlatih

Usia 30 tahun mungkin bukanlah usia ideal untuk memulai latihan beladiri, walau dulu sekali kira-kira waktu SMP pernah ikut latihan beladiri, itupun hanya ikut-ikutan dan tidak tahan lama. Sudah lama banget kepingin bisa ikut beladiri, malu juga dengan istri karena sudah banyak tumpukan lemak dimana-mana, padahal istri rajin ikut senam dengan ibu komplek. Jadi inget iklan di TV, masih endut sayang …kek kek kek.

Pulang malam sudah menjadi rutinitas yang tidak mungkin terelakkan. Ditemani motor Mio kesayangan, biasa melewati jalan yang sepi dan rada gelap. Sering ngeper juga hati ini jalan sendirian malem-malem, takut tiba-tiba ada yang nongol dan ihik …besuk pagi sudah masuk berita Lampu Merah …ditemukan laki-laki gendut, pendek, putih bersimbah darah tidak pakai pakaian di selokan….alamaaaaak ..jangan deh ya Allah, kalaupun masuk koran yang terhormatlah.

Sampai rumah, badan loyo, keujanan, becek, baju lepek-lepek …alah capek deeeehh. Kalau sudah begini tenaga mungkin tinggal 20 %, ditambah mata sisa 5 watt doang. Istri yang sudah dandan cantikpun tidak sempat di colek, paling banter kecupan sayang dan langsung zzzzz mimpi indah ketemu bidadari yang lain kek kek kek. Jujur kondisi fisik waktu muda dengan sekarang beda jauh, kerja seharian bener-bener menguras tenaga, secara psikologis rada tertekan dengan istri karena tidak bisa menjalankan tugas khusus kepada istri seperti dulu lagi…sedih ya…

Bertahun-tahun badan ini tidak kenal olah raga, rasanya pingin bisa main bola seperti orang-orang, cuma sering takut dikatain eh bola main bola …or eh bolanya nambah satu lagi tuh …or pingin banget ikut beladiri cuman takut dikatain ada kiriman sandsak baru kek kek kek ..Tapi bagaimanaupun walaupun dan apapun yang terjadi saya bertekad ingin olah raga khususnya beladiri apalagi setelah baca artikel dari majalah Matra, yang membahas tentang faktor penyeban utama istri selingkuh adalah kekecewaan kepada suami karena faktor X tersebut …alamak jangan sampai terjadi kepada saya dan keturunan saya …naudzubillahi mindzalik 33 x

Once upon a time ada acara pertemuan warga komplek, saya ketemu dengan seorang Bapak yang sepertinya seusia or diatas saya sedikit, tapi badannya bro…masih keliatan apik, tipe cowok metroseksual gitu. Dan secara mengalir saya tahu beliau aktif di beladiri yang namanya Thifan. Wah ketemu orang yang pas nih, secara singkat saya langsung pingin ikut latihan dengan beliau, tapi sama beliau diminta suruh ngeliat dulu, cocok or tidaknya. Dengan tekad bulat dan bekal dorongan istri saya datang ke tempat latihan, dengan sabar saya melihat proses latihan. Mulanya biasa saja tapi lama-lama kok latihannya jadi seleeeeeemm pakai ditendangan, dipukulin, aduh maak bisa langsung kempes tanpa sarat badan aye nih …Jujur saat itu saya pingin langsung pulang dan gak berani datang lagi ke tempat latihan Thifan. Tapi untungnya tetangga saya itu bilang, jangan khawatir karena latihanya berproses, untuk yang baru tidak akan langsung seperti itu, dan disarankan langsung ketemu pembimbingnya agar dapat pengarahan yang lebih detail….Subhanallah dari penjelasan beliau ternyata Thifan Po Khan bukan hanya sekedar olah raga, tapi merupakan beladiri plus ..plus ibadah. Niat musti dilurusin dulu, baru nanti hasilnya baik…

Tak terasa sudah setahun latihan aku jalanin, awalnya berat banget. Setelah latihan pertama hampir seminggu saya tidak bisa bergerak, badan rasanya kaku dan sakit. Tapi syukurlah dikaruniai istri yang sholehah jadi cepet sembuh kek kek kek. Dari banyak senam dan jurus yang saya pelajari banyak sekali yang belum saya kuasai dengan baik. Pukulan masih berat dan lemah, tendangan belum berbentuk, senam juga masih kacau, walau demikian ada satu hal yang saya rasa beda, yaitu badan terasa lebih bugar dan ”bertenaga” tanpa harus minum suplemen penambah tenaga kek kek kek

Jalan masih panjang, sekarang masih tingkat satu, kalau mau selesai berarti masih ada 12 tingkat lagi…mampu tidak ya aku….harapanku sekarang untuk pembimbing Thifanku dan temen-temenku yang sangat baek, biarkanlah aku terus berlatih, temenin aku dan bimbing aku dengan ketulusan hatimu.

Salam persaudaraan dari hati yang terdalam.

– Tamid yang malu disebut namanya-

Hidup Sehat dengan Madu

Allah berfirman,
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya,didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”(An-Nahl:69)

Keterangan Al-Qur’anul-karim bahwa didalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia dapat dibuktikan secara ilmiah. Hal ini telah ditetapkan oleh beberapa analisis tentangnya.Ternyata didalam madu terdapat beberapa zat anti kumanyang sangat bermanfaat.

Beberapa eksperimen telah dilakukan oleh para ahli baik di Barat maupun di Timur. Salah satu eksperimen tersebut dilakukan oleh seorang ahli bakteri bernama Sakhith. Ia dibuat tercengang oleh mayoritas makanan alami, terutama susu perahan yang dapat menularkan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kuman-kuman sebagai hasil dari kontaminasinya. Lalu ilmuan ini bertanya-tanya apakah madu juga dapat menularkan berbagai macam penyakit?

Dalam risetnya, Sakhtith menanamkan kuman-kuman dari berbagai macam penyakit pada beberapa sarang madu murni. Hasilnya sungguh luar biasa, semua kuman mati dalam waktu paling lama 4 hari. Kuman tifus mati setelah 48 jam, kuman deman tifus mati setelah 24 jam, kuman radang paru-paru mati pada hari keempat dan kuman disentri seukuran baksil mati setelah sepuluh hari.

Hasil eksperimen Sakhtith ini mendapat penguatan dari Dr. Lockhead, divisi enzim di Otawa, Dr Coulumb, dr Miss Guttenberg, Dr Azuries dan beberapa ilmuwan lainnya. Mereka menggunakan madu untuk mengobati penyakit jantung, luka lambung, menangkal racun, demam , cacar air, liver, tumor otak dan banyak lagi jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan madu.

Seorang ilmuwan bernama Fischer, kepala bidang pengobatan mata rumah sakit Udesa, mengumumkan bahwa dianggap salah satu obat manjur untuk mengobati berbagi penyakit mata.

Ahli bedah Inggris, Turfulak bercerita bahwa madu lebah sangat membantu pertumbuhan organ tubuh baru. Juga membantu cepatnya perapatan dan hilangnya dampak pembedahan. Hal ini juga diakui oleh beberapa ekperimen yang dilakukan oleh para ahli kecantikan. Dijelaskan bahwa madu dapat melindungi (konservasi) keremajaan kulit serta menghilangkan kerut dan cacat pada kulit.

Madu untuk kebugaran

Berdasarkan analisis kedokteran dijelaskan bahwa penyebab utama dari keletihan ditumbulkan sebagai hasil dari asam laktik dan asam arang (karbonik) dalam jaringan tubuh akibat dari mengerahan tenaga. Karenanya harus dinetralisir dengan alkali yang banyak terdapat dalam buah-buahan, sayur berwarna hijau dan juga madu. Madu yang berwarna hitam pekat lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan yang berwarna terang dalam menetralisir zat asam dalam darah.

Menurut sumber kepustakaan, setiap 1.000 gr madu bernilai 3.280 kalori. Nilai kalori 1 kg madu sama dengan 50 butir telur atau 5.575 lt susu, atau 1.680 kg daging.

Kandungan gula dalam madu sangat tinggi yaitu fruktosa 41 %, glukosa 35 %, dan sukrosa 1,9 %. Selain itu terdapat unsur lainnya seperti tepung sari ditambah berbagai enzim pncernaan serti vitamin A, B1, B2, antibiotika, magnesium, lainnya. Perlakuan tubuh terhadap madupun berbeda dibandingkan dengan gula. Madu dapat langsung diproses menjadi glukogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dahulu oleh enzim pencernaan di usus.

Para peneliti di University of Memphis menemukan bahwa sedikit madu setelah latihan yang berat dapat membantu tubuh memulihkan stamina dan menjaga kadar gula darah. Pada penelitian, 39 pria disuruh berlatih beban berat dan atlet wanita menjalani latihan mengangkat beban selama berjam-jam. Kemudian dengan segera mereka mengkonsumsi suplemen protein dicampur dengan salah satu bahan berikut : gula – maltodekstrin, suatu karbohidrat kompleks; atau madu dalam bentuk bubuk.

Hanya kelompok yang mendapat kombinasi protein-madu menunjukkan kadar gula darah yang optimal dalam waktu 2 jam setelah latihan. Para atlet yang mengkonsumsi madu juga menunjukkan kadar hormon yang lebih membantu untuk pemulihan otot. (hb)

Disarikan dari : Mukjizat Ilmiah dalam Al Qur’an – M Kamil Abdushshamad dan berbagai sumber lainnya.